Notification

×

Iklan

Iklan

Tag Terpopuler

BEM Fakultas Hukum Universitas Ekasakti Sukses Gelar Diskusi Publik di Hari Sumpah Pemuda: Kobarkan Semangat Persatuan Menuju Perubahan

Rabu, 28 Oktober 2026 | Oktober 28, 2026 WIB Last Updated 2026-10-28T04:53:08Z
Diskusi Publik FH Unes 28-10-2026 Ruang Sidang FH Unes 

GofaktaNews.com — Memperingati Hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada tanggal 28 Oktober 2026, Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Fakultas Hukum Universitas Ekasakti (UNES) Padang  menggelar kegiatan Diskusi Publik bertajuk "Dari Persatuan Menuju Perubahan: Menghidupkan Kembali Semangat Sumpah Pemuda di Kalangan Mahasiswa". Pada hari Rabu 28 oktober 2026.

​Kegiatan yang dihelat untuk menghidupkan kembali roh perjuangan pemuda di era modern ini dihadiri langsung oleh Rektor Universitas Ekasakti Padang, Prof. Dr. H. Sufyarma Marsidin, M.Pd., Dekan Fakultas Hukum Dr. Fitriati, S.H., M.H., serta Ketua Program Studi S1 Ilmu Hukum Fakultas Hukum UNES, Dr. Neni Vesna Majid, S.H., M.H., beserta jajaran dosen dan puluhan mahasiswa Universitas Ekasakti.

​Apresiasi Pimpinan Fakultas dan Universitas.

​Acara secara resmi dibuka oleh Kaprodi S1 Ilmu Hukum Fakultas Hukum UNES, Dr. Neni Vesna Majid, S.H., M.H. Dalam sambutannya, beliau memberikan apresiasi tinggi kepada BEM Fakultas Hukum atas inisiatif dan gebrakan dalam menggelar diskusi bermutu tepat di Hari Sumpah Pemuda.

"Ini adalah bentuk keseriusan mahasiswa dalam menuntut ilmu. Dari persatuan gagasan, semangat, dan tindakan nyata, perubahan bagi bangsa ini dapat diwujudkan. Mahasiswa harus kembali menjadi motor penggerak perubahan dan garda terdepan dalam menjaga keadilan serta kemajuan bangsa," tegas Dr. Neni Vesna Majid.

​Senada dengan hal tersebut, Ketua BEM Fakultas Hukum UNES, Aryasuta Taharman, menyampaikan rasa terima kasih dan apresiasi atas kehadiran Rektor, pimpinan fakultas, serta narasumber yang telah mendukung penuh suksesnya acara ini.

​Pesan Ketua Panitia: Sumpah Pemuda Adalah Perjanjian Politik Sejarah.

​Sementara itu, Ketua Panitia Pelaksana, Topit Marliandi, dalam laporan dan pengantarnya menegaskan bahwa Hari Sumpah Pemuda bukan sekadar momentum sejarah yang diperingati secara seremonial saban tahunnya. Lebih dari itu, Sumpah Pemuda merupakan akar dari kesadaran berbangsa dan bernegara.

​"Tema ini berangkat dari keprihatinan sekaligus harapan besar kita terhadap peran mahasiswa hari ini. Kita ingin menegaskan kembali bahwa dari persatuan gagasan, semangat, dan tindakanlah, perubahan nyata bagi bangsa ini dapat diwujudkan," ujar Topit Marliandi. Ia berharap diskusi ini mampu memantik pemikiran kritis, mempererat rasa persatuan, dan menghidupkan kembali roh perjuangan Sumpah Pemuda di dalam dada seluruh mahasiswa Universitas Ekasakti. "Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan. Mari satukan langkah menuju perubahan!" serunya.

​Pemaparan Materi: Menggali Akar Sejarah dan Tantangan Zaman.

​Memasuki sesi inti, diskusi menghadirkan narasumber Sayid Anshar, S.H.I., M.H. seorang aktivis senior yang juga menjabat sebagai Ketua Ikatan Mahasiswa Sulawesi (IMAS) Sumatera Barat serta pengurus KAHMI. ​Dalam pemaparannya, Sayid Anshar menekankan pentingnya memahami akar sejarah sebagai landasan utama persatuan mahasiswa hari ini.

​"Kita tidak akan pernah bisa mempersatukan gerakan jika tidak memahami akarnya. Sumpah Pemuda adalah ikrar persatuan yang lahir pada 28 Oktober 1928 melalui Kongres Pemuda II di Batavia, Jakarta, untuk meneguhkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa persatuan. Tahun 1928 bukanlah sekadar slogan atau seremoni tahunan, melainkan sebuah ikrar dan perjanjian politik sejarah yang sangat berharga," tegasnya di hadapan peserta diskusi.

​Lebih lanjut, pemateri mengurai rekam jejak historis konsensus nasional pemuda yang bermula dari kegagalan konsolidasi organisasi kedaerahan pada Kongres Pemuda I (1926). Kegagalan tersebut direspons oleh Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI) dengan menginisiasi Kongres Pemuda II tahun 1928. Di bawah intaian dan tekanan ketat intelijen kolonial Belanda, para tokoh pemuda saat itu, seperti Sugondo Djojopuspito (PPPI), Djoko Marsaid (Jong Java), Muhammad Yamin (Jong Sumatranen Bond), dan Amir Sjarifuddin (Jong Bataks Bond), berhasil menanggalkan ego kedaerahan demi melahirkan ikrar monumental tersebut.

​Komparasi Kritis: Menjawab Tantangan Mahasiswa Modern.

​Di penghujung materinya, narasumber memberikan komparasi kritis antara pergerakan pemuda masa lalu dan realitas mahasiswa hari ini, ikrar 

​Pemuda 1928,  Berjuang secara berkonsolidasi di bawah himpitan rezim kolonial asing untuk merebut kedaulatan.

​Mahasiswa Saat Ini,  Berhadapan dengan infiltrasi kepentingan dan pengaruh asing di dalam negeri yang berisiko menjadikan pemuda dan mahasiswa hanya sekadar penonton di tanah airnya sendiri.

​"Tugas mahasiswa saat ini adalah melanjutkan estafet perjuangan para pendiri bangsa. Mahasiswa harus berdiri di barisan depan sebagai agen perubahan (agent of change), merawat persatuan dalam kemajemukan, serta berpikir kritis dalam mengawal arah perjalanan bangsa," pungkasnya. 

Penulis : (Humas BEM FH UNES)

Editor    :  Redaksi

×
Berita Terbaru Update