Oleh: Topit Marliandi
Kota Padang - Di tengah riuhnya dinamika pembangunan pendidikan dan pesatnya perkembangan zaman, kita kerap kali terjebak dalam arus kritik yang tajam. Sering kali kita menuntut kesempurnaan secara seketika. Padahal, sejarah mencatat bahwa perubahan besar jarang sekali lahir dari langkah yang langsung sempurna. Perubahan sejati lahir dari keteguhan hati, proses yang panjang, serta keberanian untuk mengakui bahwa setiap langkah selalu menyisakan ruang untuk diperbaiki.
Pesan ini ditujukan secara khusus kepada kawan-kawan mahasiswa, terkhusus mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Ekasakti (BP 2025). Kita tidak bisa memungkiri bahwa di balik setiap proses pembangunan intelektual dan akademis, selalu ada tantangan yang menyertai.
Namun, menjadi kritis bukan berarti harus memutus harapan, membungkam kebebasan berpendapat, atau merusak nilai-nilai demokrasi. Sikap kritis yang konstruktif adalah kemampuan untuk melihat apa yang telah dicapai, sembari terus membuka ruang dialog demi perbaikan masa depan ilmu pengetahuan hukum di Republik Indonesia, baik hukum pidana, hukum perdata, maupun hukum tata negara.
Mengakui Kekurangan, Membangun Pijakan.
Kita semua adalah bagian dari proses panjang tersebut. Tidak ada satu pun manusia maupun karya manusia yang luput dari sebuah kekurangan. Mengakui ketidaksempurnaan dan kesalahan bukanlah bentuk kelemahan, melainkan titik pijak paling jujur untuk melangkah lebih jauh dan menjadi lebih yang baik.
Realita hari ini memperlihatkan ketimpangan yang nyata, tuduhan, intimidasi, dan ancaman hukum kerap kali melayang tajam kepada masyarakat lemah yang tak beruang. Sebaliknya, ketika berhadapan dengan pihak yang memiliki kekuatan finansial, relasi jabatan, atau menyangkut kepentingan segelintir elite, hukum mendadak tumpul.
Melihat fenomena ini, pandangan kita sebagai insan hukum mestinya tidak sekadar mencari siapa yang salah. Kita harus mulai bertanya, "Bagaimana kita dapat berkolaborasi untuk memastikan keselamatan, keadilan, dan kenyamanan bagi seluruh lapisan masyarakat, terutama rakyat kecil yang sangat membutuhkan uluran tangan kita?
Dari Kampus untuk Keadilan Masa Depan.
Sebagai mahasiswa Fakultas Hukum, yang kelak akan lahir menjadi para penegak hukum seperti pengacara, hakim, jaksa, dan profesi hukum lainnya, peran kita sangat krusial.
Mari kita jadikan kritik sebagai sarana untuk merangkul, bukan memukul. Kita harus percaya bahwa sebuah sistem akan menjadi jauh lebih kuat jika setiap komponen di dalamnya merasa didengar, dihargai kontribusinya, dan dilindungi hak-haknya.
Kritik yang membangun adalah kritik yang tidak meruntuhkan semangat, melainkan merajut kolaborasi demi tegaknya keadilan yang hakiki di bumi pertiwi.
Merawat Ruang Hidup Bersama.
Mari kita bergeser dari budaya saling menyalahkan menuju budaya saling mengingatkan dengan penuh martabat. Sebab pada akhirnya, dalam perjalanan hidup ini, apa yang kita tinggalkan kelak adalah jejak kebaikan.
Integrasi yang kokoh, regulasi yang dibangun secara adil, serta masyarakat yang santun adalah tiga pilar utama yang akan membawa kita menuju kesejahteraan yang sebenarnya. Kita tidak sedang membangun monumen kesempurnaan yang kaku, tapi kita sedang merawat ruang hidup bersama yang terus tumbuh lewat sentuhan kepedulian.
Sebagai mahasiswa ilmu hukum, yang kelak akan memegang pilar-pilar penegakan hukum, proses perkuliahan dan wadah menuntut ilmu inilah tempat di mana kebijaksanaan kita diuji. Di sinilah kita belajar melampaui perbedaan dan kesalahan untuk bersinergi, membangun hari esok yang lebih terang. Sebab, seperti sebuah kiasan, tidak setiap retakan pada tembok adalah kerusakan, melainkan celah bagi cahaya untuk masuk.
Menolak Hukum yang "Tajam ke Bawah, Tumpul ke Atas".
Kita tidak perlu menunggu sempurna untuk mulai berbuat baik. Biarlah niat baik menjadi kompas arah, dan kesabaran menjadi pelabuhan yang menuntun kita pada kebahagiaan. Di bawah langit yang sama, mari kita menenun harapan, bukan dari benang-benang perpecahan, melainkan dari helai-helai kebaikan yang kita rajut bersama demi masa depan yang lebih teduh bagi anak cucu kita kelak.
Satu hal yang harus kita kawal bersama, jangan pernah biarkan hukum berjalan dengan tebang pilih. Kita menolak keras realita hukum yang tajam ke bawah tetapi tumpul ke atas.
Harapan kita mutlak, hukum harus ditegakkan seadil-adilnya. Hukum harus berdiri tegak bagaikan Sang Saka Merah Putih, melambangkan keberanian membela yang benar dan kesucian niat untuk mengabdi.
Mahasiswa untuk Indonesia.
Kita adalah Indonesia. Di bawah naungan Bhinneka Tunggal Ika, walaupun kita berbeda-beda latar belakang dan pemikiran, kita tetap satu bangsa.
Oleh karena itu, saya menghimbau kepada kawan-kawan semua, jagalah dan tegakkanlah keadilan! Mari kita buktikan kapasitas diri dengan menjadi mahasiswa yang kritis, membangun dan mahasiswa yang merangkul, bukan memukul. Terima kasih.
Padang, 1 Agustus 2026.
Penulis : Topit Marliandi
